Blog ini berisi segala hal yang berkaitan dengan kegiatan saya sehari-hari baik pemikiran, pekerjaan, ide, usul dan saran, komunikasi, interaksi, dan lain-lain.
Jumat, 18 Oktober 2013
MENCETAK WIRAUSAHA BARU UNTUK NEGERI INI (Wawancara dengan Majalah Kiastra)
Sementara itu Indonesia, yang kaya akan sumber daya alam, hanya berada pada peringkat ke-117 dari 187 negara yang disurvei, dengan GDP (PPP) per kapita sekitar US$4,600. Jadi, apa yang harus diperhatikan dan dibenahi?
Indonesia bercita-cita untuk mencapai pendapatan per kapita antara US$14,000 sampai dengan US$16,000 pada tahun 2025. Waktunya hanya tinggal 12 tahun dari sekarang. Pertanyaannya, mungkinkah itu tercapai?
Bisa ya bisa tidak. Jika pada tahun 2014 terpilih seorang presiden baru yang memiliki kemampuan yang hebat, maka harapan itu mungkin berada dalam jangkauan untuk dapat diwujudkan. Syaratnya, dia harus mampu melakukan berbagai terobosan kebijakan yang memungkinkan dunia usaha berkembang pesat. Dia harus mampu mengendalikan stabilitas politik dan keamanan, dan kinerja dunia pendidikan dapat ditingkatkan. Termasuk dalam terobosan di dunia pendidikan adalah penyelenggaraan pelatihan-pelatihan keterampilan di berbagai bidang dan tingkatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, dengan cara yang tidak dipoles-poles melainkan dengan menerapkan “iron law of meritocracy,” siapa mampu dia diberi nilai yang baik dan diberi kesempatan. Itu dilakukan secara menyeluruh baik di birokrasi pemerintahan, sekolah-sekolah kejuruan, perguruan tinggi, maupun pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Pemerintah harus mengawal agar terobosan kebijakan dilaksanakan di lapangan secara konsisten. Pejabat yang tidak kompeten harus diganti dengan yang kompeten karena jantung perubahan ada di birokrasi pemerintahan.
Meminjam istilah dalam buku Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), semua pemangku kepentingan pembangunan harus melakukan pekerjaannya “not business as usual.”
Jadi, mulai sekarang marilah kita mencari calon presiden yang hebat yang akan membawa Indonesia mewujudkan percepatan pembangunan yang signifikan dalam waktu satu dasawarsa ke depan. Kita boleh optimis.
Di lapangan, saat ini, sedang berlangsung berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat yang patut diacungi jempol. Salah satunya adalah yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia melalui program pemberdayaan usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sasarannya, mencetak ribuan wirausaha Indonesia yang berdaya saing tinggi. Pendekatan dilakukan bukan hanya kepada para pelaku usaha kecil yang sudah ada, melainkan juga kepada para mahasiswa yang masih ada di perguruan tinggi. Para mahasiswa tersebut diajak untuk mulai memikirkan meniti karir sebagai wirausahawan setelah lulus dari perguruan tinggi.
Salah satu tokoh penting di balik program pengembangan kewirausahaan yang dilaksanakan Bank Indonesia tersebut adalah Hatta S. Mahyaya. Nama depannya kebetulan sama dengan nama Hatta Rajasa yang adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, namun di antara mereka tidak ada hubungan kekerabatan. Hatta S.M. sebagaimana ia biasa dipanggil oleh para koleganya adalah orang Pontianak asli, sarjana lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura tahun 1993.
Kiprah Hatta S.M. ini telah membawanya ke istana presiden untuk menerima penghargaan Upakarti pada tahun 2011 sebagai pendamping UMKM. Ide-ide dan strateginya untuk pemberdayaan UMKM dan pengembangan kader-kader wirausaha sangat membumi. Kalau gagasan dan langkah-langkahnya di lapangan dapat diikuti dan diterapkan di tempat lain di seluruh Indonesia, maka dalam waktu singkat Indonesia dapat memiliki ribuan kader wirausaha yang tangguh.
Untuk mengungkap lebih jauh pemikiran dan langkah-langkah nyata Pak Hatta tersebut, wartawan majalah KIASTRA, Dalle Daniel Sulekale, menemuinya di Sekretariat Inkubator Bisnis UMKM yang berlokasi di gedung lama Bank Indonesia di Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Wartawan Kiastra juga sempat menghadiri acara wisuda para wirausahawan-wirausahawati angkatan kedua dan ketiga hasil bimbingan Pak Hatta selama enam bulan. Berikut hasil wawancara dengan beliau:
Sejak kapan anda menjalin kerjasama dengan Bank Indonesia
Sejak tahun 2009. Posisi saya sebagai konsultan Pemberdayaan UMKM.
Sebelumnya di mana?
Sebelumnya sebagai Tenaga Ahli Industri Kecil dan Menengah (IKM) Pangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Kalimantan Barat, yaitu sejak tahun 2006. Saya bertugas sebagai tenaga ahli IKM (Industri Kecil Menengah) dengan tugas utama membantu memberdayakan kelompok-kelompok usaha pangan. Saya ditempatkan di Disperindag Provinsi Kalbar itu sebagai tenaga ahli dari Kementerian Perindustrian, sehingga honor saya dari Kementerian Perindustrian. Pada tahun 2008 saya beralih dan langsung berada di bawah Disperindag Provinsi.
Tugas anda apa saja sebagai tenaga ahli IKM pangan waktu di Disperindag Provinsi?
Memetakan UMKM Kalbar (jenis usaha, penyebaran, permasalahan yang dihadapi), di-ranking lalu menawarkan solusi atas permasalahan yang dihadapi langsung kepada pelaku usaha yang bersangkutan. Jadi dilakukan pendampingan langsung pada level perusahaan (On Company Level), dalam program ini dilakukan pembimbingan langsung secara kontinu selama enam bulan. Kami juga masuk ke kabupaten-kabupaten melalui dinas-dinas perindustrian dan perdagangan kabupaten. Empat aspek utama yang diperhatikan: produksi, keuangan, pemasaran, dan organisasi. Saya juga merupakan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) yang dilatih langsung oleh Bank Indonesia dan bertugas mempersiapkan UMKM untuk dapat mengelola usaha dengan baik dan bankable.
Setelah masuk ke Bank Indonesia?
Setelah bergabung dengan Bank Indonesia di Pontianak sebagai konsultan, saya mendapat tugas untuk mengembangkan dan memberdayakan sektor riil dan UMKM yang meliputi banyak sektor seperti pertanian, perikanan, industri rumah tangga, perdagangan dan lain-lain. Yang harus saya lakukan terutama berkaitan dengan bidang pertanian, yaitu memperkuat kelompok-kelompok petani menjadi wirausaha tani. Pemuda-pemuda dan petani kami latih menjadi wirausaha tani dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia melimpah di desa. Kenapa petani menjadi sasaran utama? Karena waktu itu isu pembangunan yang menonjol adalah masalah ketahanan pangan dimana lahan dan produktifitas hasil pertanian menurun. Sekarang ini fokus perhatian bukan lagi terbatas pada pertanian saja tetapi semua bidang usaha UMKM.
Bentuk pendampingan di lapangan?
Kami melakukan pembinaan kepada kelompok-kelompok petani untuk meningkatkan wawasan bisnis mereka, yaitu bagaimana meningkatkan produksi dengan meminimalisasi biaya. Salah satu cara yang disarankan kepada petani adalah meningkatkan penggunaan pupuk organik sederhana. Bahan pupuk adalah jerami padi yang diberi pengurai, yaitu trikoderma. Trikoderma dapat mengikat besi yang meracuni tanaman, mencegah berkembangnya jamur penyakit yang merusak tanaman padi, dan menghidupkan mikroba-mikroba tanah sehingga nutrisi tanah lebih tersedia dan mudah diserap tanaman. Penggunaan pupuk organik sederhana ini bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah. Rongga-rongga udara (aerasi) tanah terbentuk sehingga tanah tidak padat dan dapat menyimpan air saat kemarau. Sekarang, setelah kelompok-kelompok yang didampingi semakin bervariasi bidang usahanya, pendampingan terutama dilakukan untuk membangun mentalitas wirausaha dalam menjalankan manajemen bisnis, khususnya aspek pemasaran, produksi, dan keuangan.
Wirausaha kuat, perekenomian negara kuat. Bagaimana menurut anda?
Benar sekali. Semakin banyak wirausaha yang tumbuh, tentunya itu akan menyerap tenaga kerja. Bisa memutar roda perekonomian setempat. Jika semua wilayah bergerak bersama, akhirnya kan seluruh wilayah di Indonesia ikut terpengaruh, ikut bertumbuh. Setiap Wirausaha yang kami latih dan kami bina, kami beri mandat untuk dapat membina sedikitnya dua calon pengusaha baru, dan kepada dua calon pengusaha baru tersebut akan diberikan pesan yang sama sehingga diharapkan efeknya jadi berantai dan meluas dalam waktu yang singkat.
Faktor apa yang krusial dalam upaya penumbuhan jiwa wirausaha.
Masalah pada Wirausaha adalah masalah mentalitas, juga pada inovasi dan kreativitas. Jika hal ini bisa diperkuat dan dikembangkan maka bisa memacu pertumbuhan ekonomi rakyat. Orang yang bukan wirausahawan, basic mentality-nya biasanya adalah sebagai bawahan, orang gajian yang sebagian cenderung apatis, pesimis dan cenderung tidak kreatif. Sikap tidak kreatif ini akan berdampak panjang pada menurunnya daya saing. Orang yang hanya terima perintah, disuruh, kan ya hanya terima bayaran saja. Pengasahan kreativitas jadi lambat, cenderung tumpul. Tapi kalau seseorang menjadi wirausahawan dia cenderung lebih kreatif karena ditempa oleh situasi-situasi berat yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang yang hanya berkedudukan sebagai karyawan. Keunggulan menjadi seorang wirausahawan antara lain sudah jelas dia jadi pimpinan/ boss, bukan bawahan, kemudian bisa mendapatkan status terhormat dengan melegalkan usahanya, dengan akte perusahaan yang resmi, badan usahanya jadi CV atau PT, dan status nya diakui sebagai direktur.
Nah, ketika calon-calon wirausahawan sudah menyadari ini, dia mampu mengeluarkan segenap upaya untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang wirausahawan yang memiliki gengsi yang tidak kalah dibanding menjadi pegawai negeri. Kreativitasnya akan terasah melalui proses persaingan dengan pelaku-pelaku usaha lainnya, dan seterusnya hal tersebut akan memacu perkembangan usahanya.
Bagaimana anda melihat peran anda dalam proses penumbuhan wirausaha tersebut?
Proses menumbuhkan wirausaha itu tanggung jawab moral semua pihak, bukan hanya pemerintah. Saya memilih untuk ikut berperan sebagai kewajiban moral saya, tidak ditunjuk, tidak disuruh, tidak diupah. Saya ambil peran dimana saya bisa. Kebetulan saya mengerti, dan kebetulan punya pengalaman dan pelaku usaha juga, jadi empatinya ada. Jadinya, ketika melakukan kegiatan pendampingan terhadap pelaku-pelaku usaha kecil, saya tidak menemui kesulitan. Saya tidak hanya memberikan bimbingan berdasarkan teori dari buku, melainkan lebih banyak dari pengalaman nyata.
Anda mempunyai usaha apa?
Saya bersama sepupu ada usaha pembibitan tanaman buah, segala macam buah. Lokasinya di Jl. Danau Sentarum, Pontianak. Tanaman bibit tersebut kami jual kepada siapa saja, kepada petani, pemerintah, swasta dan masyarakat umum.
Bagaimana perkembangan wirausaha di Kalimantan Barat?
Di Kalbar ini lebih ke masalah manusianya (SDM) dibanding sumber daya alamnya (SDA). Potensi sumber daya alam di sini banyak sekali. Dalam hal ini kita coba mengangkat dan meyakinkan masyarakat bahwa wirausaha ini adalah pekerjaan yang baik, yang terhormat, yang bergengsi, yang berpotensi meningkatkan ekonomi, mengurangi pengangguran dan mengurangi kemiskinan sehingga citra jelek terhadap wirausaha dapat pelan-pelan kita ubah. Saat ini wirausaha dicitrakan sebagai usaha yang tidak formal, sulit berkembang, tidak berpotensi, tidak bergengsi dibandingkan dengan jadi sarjana terus bekerja sebagai pegawai. Wirausaha dianggap pekerjaan kelas dua. Pandangan itu bisa kita ubah.
Caranya?
Itu tadi. Beri penyadaran bahwa wirausaha itu punya banyak keunggulan. Sudah jelas menjadi wirausaha itu berarti bukan menjadi pengangguran, bukan bawahan, peluang usahanya besar sekali terutama di desa, penghasilan akan meningkat jika kerja bagus dan kreatif, ritme kerja ditentukan sendiri, kerja tidak terikat waktu, modal usaha tidak perlu besar namun dapat menghasilkan laba besar, status sebagai owner. Hal-hal ini kita tanamkan dulu. Jika hal ini berhasil kita tanamkan pada seorang calon sarjana misalnya, maka hasilnya akan luar biasa, sebelum lulus kuliah dia bisa menjadi direktur perusahan, baru setelah itu menjadi sarjana. Pola pikir sebagai seorang sarjana akan sangat berpengaruh pada langkah-langkah selanjutnya. Tanpa gelar sarjanapun semua orang bisa menjadi wirausaha yang berhasil selama mau belajar semisal di Inkubator Bisnis UMKM.
Inkubator bisnis UMKM yang sedang anda kembangkan bersama Bank Indonesia ini siapa penggagasnya, anda atau Bank Indonesia?
Sebetulnya sih gayung bersambut. Saling punya konsep, begitu. Kebetulan tahun 2011 saya mendapat Upakarti dari presiden sebagai pendamping UKM. Di situ saya punya konsep bagaimana cara melakukan percepatan mengangkat kemampuan manajemen wirausaha/UMKM, termasuk yang saya bilang tadi itu bahwa keunggulan-keunggulan wirausaha dapat disiapkan secara khusus. Wadahnya adalah inkubator. Kebetulan Bank Indonesia juga punya program yang namanya Penciptaan Wirausaha Baru. Nah, ini di-combine. Dapatlah bentuknya yaitu Inkubator Bisnis UMKM seperti yang ada sekarang. Kami menyusun silabus dan materi pembelajarannya kemudian dipadu dengan pengalaman lapangan dan mengurangi teori-teori yang sulit diterapkan. Konsepnya adalah bagaimana seseorang itu dapat mengelola usaha kecil dengan baik dan benar namun sesederhana mungkin (Small business is beautifull and easy to role), kita coba sebagai pilot project. Sambutan dari berbagai pihak cukup baik. Dari beberapa daerah ada usul dan permintaan agar juga dibangun inkubator seperti ini di daerahnya.
Kapan Inkubator Bisnis UMKM ini dibangun?
Tahun 2012, tanggal 21 April.
Kenapa 21 April, ada momen khusus?
Sebenarnya memang ada relevansi dengan semangat Ibu Kartini yang diperingati pada tanggal 21 April. Ibu Kartini kan mendorong tumbuhnya peran perempuan, dan itu juga merupakan semangat kewirausahaan. Faktanya, sekitar 90% pelaku wirausaha di Kalimantan Barat ini adalah perempuan. Yang saya alami, sejak 2005 sampai sekarang, sekitar 90% yang saya latih adalah perempuan, jumlah peserta yang pernah mengikuti seminar saya, workshop, pelatihan dan sosialisasi hingga tahun 2013 telah lebih dari 3.000 orang.
Pesertanya dari mana saja?
Untuk inkubator bisnis ini pesertanya untuk sementara dari kabupaten/kota terdekat saja dulu. Usaha mereka beragam, namun banyak yang bergerak di industri rumah tangga berupa kuliner/makanan ringan. Ada juga yang bergerak dibidang jasa, perdagangan, industri kerajinan, perikanan dan teknologi informasi.
Pelatihannya berapa lama untuk satu angkatan?
Enam bulan. Tapi itu tidak setiap hari kerja. Jadwal kami atur sebagai berikut: 1 hari masuk kelas, kemudian 6 hari praktek di rumah masing-masing, action. Apa yang dipelajari di kelas dipraktekkan sesuai bidang usaha masing-masing. Setiap minggu pagi kami kumpul di GOR (Gelanggang Olah Raga) Pontianak. Di sana kami praktek berjualan, memasarkan untuk melatih mental peserta latih. Umumnya peserta pelatihan hanya bisa produksi, begitu mau menawarkan ke pembeli muncul hambatan mental seperti malu dan takut. Nah, di sini kami latih untuk menghilangkan itu. Mereka yang mengikuti saran-saran kami biasanya ada perubahan yang cukup baik.
Bagaimana prosesnya?
Minggu pertama biasanya kami stand-by di tenda. Awalnya, ada rasa malu untuk berkomunikasi dengan calon pembeli yang belum dikenal. Sementara di kelas sudah diajarkan bahwa mereka adalah pasar kita. Nah, pasar ini perlu dikenali, disapa, ditegur, sehingga produk kita juga dimengerti. Nah, biasanya pada minggu kedua kami mendorong lagi “ayo coba, ayo coba.” Ada beberapa kasus, ketika peserta pelatihan ini mencoba untuk berkeliling (mereka punya waktu hanya 2-3 jam dari jam 6 sampai jam 9 pagi), di minggu pertama peserta pelatihan tersebut dapat menjual selondok (keripik) ubi omsetnya sekitar Rp 486.000-an. Bagi dia itu sudah lonjakan luar biasa. Minggu kedua, kita lakukan hal yang sama, kita amati, ternyata terjadi peningkatan walaupun waktu itu lebih singkat karena hujan. Hanya 1 jam, tetapi omsetnya Rp 390.000-an. Dalam skala mikro, kecil, ini sangat berarti. Kalau skala besar sih tidak ada artinya. Minggu ketiga dan keempat naik tajam sampai ke Rp 900 ribuan. Nah, minggu terakhir kemarin (awal Juni, red) dia sudah bisa membukukan omset Rp 1.190.000-an dalam waktu dua setengah jam dengan laba sekitar 40%-50%. Artinya, dia sudah bisa komunikatif dengan pasar.
Mengapa memilih GOR?
GOR itu tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai tingkatan sosial ekonomi. Jadi, random di sana. Hal ini bisa memudahkan teman-teman untuk berlatih. Kalau kita hanya menyasar satu segmen pasar saja, itu belum tentu kena semua segmen. Ketika yang lewat dari berbagai status sosial dan status ekonomi, teman-teman dapat praktek sekaligus. Kami mendirikan dua tenda. Kami terapkan sistem sarang laba-laba yang menunggu pembeli di tenda, ada juga pola jemput bola yang menyebar mencari calon pembeli.
Berapa peserta yang sudah dilatih?
Angkatan pertama tidak banyak, hanya ada 15 orang yang lulus. Pada angkatan kedua dan ketiga ini kami mewisuda 31 orang peserta yang lulus, perempuannya sekitar 80-90 persen. Kami tidak menekankan pada kuantitas, tetapi lebih kepada kualitas. Kami sedang menyiapkan angkatan keempat dengan peserta sekitar 38 orang dengan komposisi persentase perempuan lebih tinggi.
Apakah peserta pelatihan dikenakan biaya?
Prinsipnya inkubator ini kan mencari peserta yang serius. Jadi, kita adakan seleksi dengan tes tertulis dan wawancara. Disampaikan kepada mereka bahwa selama belajar kita akan sharing dana pelatihan yang sangat terjangkau, Rp 300.000,- untuk enam bulan belajar, kurang lebih untuk 24 kali pertemuan. Jadi per minggunya jatuh sekitar Rp 12 ribuan. Satu hari belajar sekitar 6 jam di inkubator, hanya pada hari Sabtu, dari jam 08.00 sampai jam 14.00, selebihnya peserta praktek dirumah mereka masing-masing.
Perlu saya informasikan bahwa dari sharing biaya, uang Rp 12.000-an per minggu itu kembali ke peserta juga. Yang Rp 10.000,- dikembalikan dalam bentuk makan siang bersama, yang Rp 2.500,- dipakai untuk membeli air minum. Mengapa makan siang bersama? Karena kita inginkan mereka saling mengenal, saling berinteraksi, saling bertukar pengalaman, saling bantu dan akhirnya dapat mengembangkan jaringan bisnis bersama.
Pak Hatta juga menjangkau kampus seperti Universitas Tanjungpura yang ada matakuliah wirausaha dan program mahasiswa wirausaha yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia sering diundang untuk memberikan materi umum kewirausahaan dan berdiskusi dengan mahasiswa. Ada kalanya per fakultas ada kalanya pula secara umum untuk peserta dari berbagai fakultas. Ia merasa ini misi yang sangat penting karena menjangkau calon-calon pemimpin. Makin banyak lulusan perguruan tinggi yang memilih menjadi wirausahawan makin baik untuk pertumbuhan ekonomi bangsa.
Bagaimana cara anda memperkenalkan wirausaha kepada mahasiswa?
Mereka tidak bisa di-setting untuk membuka usaha kemudian begitu saja dibiarkan. Ini harus “dibungkus”. Jadi secara bertahap mahasiswa dalam tahun belajarnya itu diperkenalkan dengan wirausaha kemudian belajar mengelola usaha, kemudian melegalitaskan usahanya, tapi jenis usahanya tidak lari dari ilmu yang ia pelajari difakultas. Katakanlah, ia kuliah di fakultas pertanian, bisnisnya mestinya agrobisnis, fakultas teknik ya bisnisnya bidang teknologi, fakultas ekonomi ya bidang jasa dan perdagangan, kalau IKIP ya bisnisnya pendidikan, dst.
Bagaimana seorang mahasiswa dapat diarahkan untuk menjadi wirausahawan?
Sebelum dia lulus, dia bisa mengembangkan usaha dan melegalkan perusahaannya. Artinya, dia sudah jadi direktur sebelum lulus. Ia sudah menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri dan dapat merekrut tenaga kerja. Nah, ketika dia skripsi dia bisa mengangkat judul skripsi berdasarkan usaha yang dijalani atau komiditi yang diambil. Itu bisa jadi bahan skripsi. Misalnya, mahasiswa fakultas pertanian. Seorang mahasiswa pertanian dikenalkan tentang tomat, dia belajar misalnya bagaimana membuat saus tomat yang baik. Ketika sudah bisa, dia perlu bahan baku, nah kita mitrakan dengan petani tomat. Petani punya lahan, punya tomat, tapi tidak punya pengetahuan. Nah, mahasiwa belajar, pengetahuannya diberikan kepada petani. Sinergi dia berdua. Ketika itu sudah mulai jalan, sudah mulai mengenal pasar, kemudian petani dan mahasiswa tersebut membangun sebuah perusahaan. Katakan, dia bikin CV begitu, mahasiswanya jadi direktur, petaninya boleh saja jadi komanditer. Sinergi. Ketika dia mau skripsi si mahasiswa mengangkat tomat, boleh buahnya, boleh hamanya, boleh tanahnya, boleh penyakitnya, apa saja yang terkait dengan tomat, termasuk bisnisnya itu. Setelah dia lulus, kan dia jadi sarjana. Nah, dia dapat tambahan gelar, selain sebagai direktur dia juga sarjana. Ketika dia selesai diwisuda, dia tidak sempat menganggur. Jadi, dia mendapat dua kesempatan, apakah mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan yang saat itu sudah diwujudkannya. Dia bisa kelola terus tanpa harus mencari lagi pekerjaan, atau dia delegasikan kepada siapa saja, bisa kepada saudaranya atau kepada orang lain. Kalau ini berjalan dengan baik maka ada output positif yang bisa diharapkan, misalnya setiap tahun akan ada ribuan sarjana yang diwisuda, maka sekaligus ada ribuan perusahaan yang didirikan, sekaligus ada ribuan direktur baru yang dicetak. Nah, tidak ada atau hanya sedikit saja pengangguran. Sangat mudah mencapai target wirausaha sebanyak 2% dari jumlah penduduk jika kita percaya pada teori ahli ekonomi MacClelland.
Jadi, anda setuju jika sambil kuliah mahasiswa juga mengembangkan bisnis?
Setuju. Keduanya harus matching, bisnisnya dan studinya. Sebagaimana saya katakan tadi, misalnya mahasiswa pertanian ya dia seharusnya membangun usaha berbasis pertanian, mahasiswa fakultas teknik ya bisnisnya teknologi, mau teknologi sederhana atau teknologi canggih, terserah. Mata kuliah yang dia pelajari di bangku kuliah itu jadi sumber ide bisnis dia, demikian.
Selasa, 24 September 2013
MEMBANGUN DESA MANDIRI MELALUI PROGRAM DESA BINAAN
Desa binaan pada dasarnya adalah suatu langkah untuk memberdayakan masyarakat desa melalui kegiatan pelatihan-pelatihan, pembinaan dan pendampingan baik melalui pelatihan wirausaha maupun pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatannya akan mendorong perekonomian desa agar menjadi desa yang mandiri dan dapat meningkatkan kesejahteraan warga sehingga pemberdayaan masyarakatpun menjadi lebih merata. Tujuan dikembangkannya desa binaan adalah untuk :
1. Membantu Kepala Desa dan jajarannya untuk mengoptimalkan potensi ekonomi desa
disemua sektor seperti pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, industri
rumah tangga, teknologi tepat guna, energi alternatif,dll.
2. Membantu masyarakat menuju kemandirian ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan
keluarga.
Desa Binaan tidak dimaksudkan sebagai sebagai desa penerima bantuan semata, namun merupakan desa yang melalui pembinaan yang terarah dapat mengoptimalkan potensi ekonomi desanya secara mandiri. Kegiatan pembinaan dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan kelompok, berupa pendampingan langsung untuk pembinaan dan penerapan teknologi tepat guna di lapangan dalam bentuk sosialisasi, demonstration plot, sekolah lapang, pelatihan dan lain-lain yang dianggap sesuai.
Hal-hal yang diharapkan bisa berkembang di desa binaan :
A. Ketahanan Pangan (Rumah Pangan Lestari):
1. Panen padi meningkat, pendapatan petani meningkat.
2. Dibangunnya demplot tanaman padi dalam pot disekitar rumah.
3. Panen sayuran meningkat, pendapatan petani meningkat.
4. Kebun cabai & hortikultura lainnya dibangun (sayuran & buah di rumah).
5. Sawah, kebun sayur dan kebun buah menggunakan trichoderma 100 %
B. Konversi energi melalui Alih Teknologi :
1. Nelayan menggunakan LPG untuk Bahan Bakar Sampan bermotor .
2. Tersedianya listrik mandiri (genset) berbahan bakar LPG.
3. Mesin pertanian menggunakan LPG utk efisiensi bahan bakar.
C. Pembentukan Klaster usaha :
1. Pembentukan Klaster budidaya pisang nipah kuning.
D. Penciptaan Wirausaha baru :
1. Munculnya wirausaha baru dengan produk-produk seperti :
a. Keripik pisang, keripik singkong, keripik keladi, keripik sayur
b. Ikan asin siap santap dalam kemasan
c. Nugget pisang
d. Teh celup /Teh es lidah buaya dan mahkota dewa
e. Asap cair
f. Gas Methan dari limbah sungai dan sampah organik
g. Air minum kemasan botol
h. Kerajinan kulit jagung
i. Kolam Terpal
j. Penjualan kemasan
E. Gemar Menabung :
1. Minat menabung meningkat melalui sosialisasi gemar menabung.
2. Minat menabung meningkat melalui produk kerajinan celengan dari bahan tempurung kelapa.
F. Fasilitas Umum :
1. Tersedianya air bersih dengan sistem penyaringan sederhana.
2. Jika memungkinkan diadakan taman bacaan untuk masyarakat.
Contoh pelaksanaan program Desa Binaan ini adalah Desa Punggur Besar yang dilaksanakan oleh Unit Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM (Unit PSRU) Kantor Perwakilan Bank Indonesia provinsi Kalbar bekerjasama dengan Jajaran Pemerintahan dan Masyarakat Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Dalam kegiatan ini KPw BI tidak memberikan bantuan berupa uang, melainkan berupa bantuan teknis dan dukungan sarana kerja.
Materi yang diberikan dalam kegiatan pembinaan desa:
1. Sosialisasi/Pengantar Program Desa Binaan,
2. Dasar-dasar Kewirausahaan Desa (Wirausaha Tani),
3. Pengenalan dan aplikasi jamur trichoderma untuk tanaman padi, cabai, sayur dan hortikultura lainnya,
4. Pengenalan dan aplikasi teknologi air bersih,
5. Pengenalan dan aplikasi Teknologi tepat Guna berupa konversi bahan bakar bensin ke LPG untuk mesin bensin (sampan motor, genset listrik) di desa.
6. Sistem Pengering ikan sederhana.
7. Aplikasi keramba jaring apung atau kolam terpal untuk pembesaran ikan konsumsi di sungai/darat.
8. Penumbuhan wirausaha baru melalui pelatihan produk usaha olahan spt keripik, ikan asin, serta pendampingan/ pembinaan.
9. Pengenalan dan aplikasi kemasan modern untuk mendukung penjualan produk olahan desa.
10. Pembentukan klaster baru (Pisang Nipah Kuning)
11. Sosialisasi Gemar menabung di desa (poster/spanduk/baliho/stiker/brosur/ celengan dll)
Potensi sumber daya alam desa dan sumber daya manusia yang di survei sebelum kegiatan bina desa dimulai antara lain :
1. Sungai (alur, pemanfaatan, kondisi fisik)
2. Lahan pertanian (padi, sayuran, palawija)
3. Lahan perikanan darat (kolam, keramba)
4. Lahan perkebunan (kopi, kakao, kelapa, dll)
5. Lahan tidur
6. Ruang publik (kantor desa, dusun, warga)
7. Hasil alam dari desa
8. Hasil olahan dan industri dari desa
9. Pasar
10. SDM usia produktif
11. SDM usia produktif yang bekerja
12. SDM usia produktif yang belum bekerja
13. Jumlah pemuda aktif, dll.
Hasil survei kemudian diolah menjadi usulan kegiatan pengembangan desa binaan. Sejak dilaunching pada bulan Januari 2013 hingga saat ini sudah banyak kegiatan yang berjalan seperti :
1. Pembangunan pintu gerbang desa
2. Pembangunan ruang administrasi lembaga pengembangan ekonomi desa
3. Pembangunan rumah kompos
4. Pembangunan kolam terpal
5. Pelatihan dan pembuatan pupuk organik
6. Pencetakan wirausaha baru dengan produk olahan keripik pisang
7. Pelatihan dan penggunaan mesin sampan berbahan bakar LPG
8. Penggunaan mesin genset listrik berbahan bakar LPG
9. Pembangunan kebun pisang nipah kuning dan pisang berangan
10. Instalasi air bersih sederhana
11. Ternak itik
12. Pengembangan pembibitan ikan lele
Kegiatan-kegiatan lain yang akan menyusul antara lain :
1. Instalasi asap cair sederhana
2. Usaha kios penjualan hasil produksi wirausaha desa
3. Pengembangan penanaman padi dalam pot
4. Pengembangan program Rumah Pangan Lestari
5. Pembuatan gas methane dari bahan limbah organik
6. Pembuatan tepung pisang nipah
7. Pengembangan kebun pisang nipah di seluruh dusun
8. Pelatihan wirausaha baru untuk seluruh dusun
9. Pengembangan kolam terpal untuk seluruh dusun
10. Sosialisasi gemar menabung untuk seluruh dusun.
Melalui gotong-royong, kegiatan di desa binaan dapat berjalan walaupun dana yang dimiliki sangat terbatas. Yang diperlukan hanyalah sikap terbuka, kesediaan untuk dilatih, kesetiakawanan dan kepedulian sosial yang tinggi dari masyarakat, itu saja.
Selasa, 17 Agustus 2010
MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA MANDIRI SEMASA KULIAH
Senin, 19 Oktober 2009
Konsep Mengurangi Pengangguran Melalui Pembentukan Wira Usaha Baru dan Pendampingan Wira Usaha
MARI KITA RENUNGKAN SESAAT KONDISI MASYARAKAT KITA BELAKANGAN INI..
(wawancara imajiner ..)
Pengangguran dimana-mana..
Ada pula yang malas kerja, dll.
Bagaimana solusinya ?
Jadilah Wirausaha !
Nanti dulu..
Kenapa harus jadi wirausaha ?
Iya, sebab wirausaha itu anti nganggur !
Siapa bilang ? Jadi wirausaha pasti jadi BOSS, bukan bawahan. Kalau serius, statusnya malah bisa sebagai Direktur !
Tapi nyatanya wirausaha itu kecil-kecil usahanya ?
Itu kalau belum dilatih ngelolanya, belum dibimbing, belum dibina n belum diorbitkan.
Mereka juga kecil pendapatannya..
Belum tentu, penghasilan wirausaha bisa lebih besar daripada gaji karyawan biasa, asal tahu caranya…
Maksudnya jual es, jual kerupuk, jual minuman, jual roti begitu bisa gede hasilnya ?
Benar sekalee, asal bener ngendalikan usahanya sesuai bimbingan maka bisa jadi akan berhasil. Dan wirausaha itu pilihan jenis usahanya buanyaaak sekale, bisa dicari yang pas untuk setiap orang, contohnya hobby seseorang dapat dijadikan sumber uang. Dan walaupun jual keripik tapi bisa berkembang dalam jumlah besar atau pabrikan.
Maksudnya ?
Kalau diseriusi, usaha bisa dikembangkan menjadi badan usaha CV atau PT, dan orangnya jelas sebagai pimpinan perusahaan atau direktur.
Khan mahal kalau buat CV atau PT..
Kalau buat PT mungkin masih terasa mahal, tapi kalau buat CV cukup Rp. 350.000 di Notaris, dan anda langsung jadi direktur, ternyata jadi direktur itu tidak mahal. Mau??
OK ngarti, tapi gimana dengan modal usaha, khan harus besar juga ?
Ndak juga, ada usaha dengan modal seratus ribuan per hari tapi bisa punya keuntungan antara 1 sampai 3 juta per bulan, target penjualan juga ndak besar, cukup 60 sampai 80 bungkus saja setiap harinya, isi perbungkusnya cukup satu ons harga 5 ribu, hebat khan?!.
Masak sih ? Bisnis apa ?
Ya bisnis biasa saja, cukup keripik, atau kerupuk, kerajinan, atau olahan makanan sederhana lainnya, kalau memang serius bisa diceritakan lebih rinci.
Truss pemasarannya gimana ?
Itu dia, salah satu kunci keberhasilan, pemasaran harus ditangani secara khusus supaya target-target penjualan tercapai. Kalau target selalu tercapai maka penghasilan yang diinginkan juga akan tercapai.
Nanganinya gimana ?
Ya dilatih dulu tenaga-tenaga pemasarannya, diajari berbagai trik menjual, manajemennya juga diajarin, orangnya dihilangin dulu sifat malunya, diperbaiki penampilan orangnya, produk yang dijual juga diperbaiki tampilan kemasannya supaya lebih menarik dan lebih mudah dijual.
Jadi kalau kitanya serius mau berwirausaha bisa dibimbing supaya berhasil seperti itu ?
Iya.. dibimbingnya juga ndak setengah-setengah selama yang dibimbing semangat dan tidak mudah menyerah.
Kok ada ucapan menyerah ?
Maksudnya dimasa-masa awal usaha pastinya terasa berat, contohnya orang yang ndak pernah olah raga tiba-tiba disuruh olah raga, ya seperti remuk badannya, tapi kalau diteruskan akan menjadi biasa dan malah keenakan. Bisnis juga begitu. Contoh lain, orang laki-laki umumnya tidak bisa buat kue, kalau disuruh buat kue ya bisa stress dia, tapi kalau diajari pelan-pelan maka lama-lama jadi biasa dan malah jadi ahlinya.
Oo gitu, balik lagi ke penghasilan, wirausaha itu khan nggak tetap pendapatannya ?
Mau pilih mana, berpenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan ? Menjadi karyawan itu berarti berpenghasilan tetap, jadi ya tetap segitu-segitu saja setiap bulan, kecuali kalau bisa naik gaji tiap bulan. Kalau menjadi wirausaha memang tidak tetap pendapatannya, kadang-kadang dua kali gajian, kadang-kadang tiga sampai empat kali, ndak tetap, tapi mereka tetap berpendapatan, malah seringkali semakin besar setiap bulannya. Semakin besar usaha maka semakin besar keuntungannya. Asal hati-hati.
Kok ada hati-hati ?
Iya, menjadi wirausaha itu harus selalu waspada terhadap hal-hal yang bisa merusak usahanya. Bukan cuma kegagalan saja yang harus diwaspadai, tapi keberhasilan juga harus diwaspadai karena bisa menggoda orang sukses untuk melakukan kesalahan.
Ok, sekarang gimana kalau nanti perlu modal besar karena usahanya sudah besar ?
Bisa ke Bank, bisa ke BUMN, bisa ke BPR, bisa juga ke Koperasi.
Kalau bunganya tinggi bagaimana ?
Bisa cari yang bunga kecil seperti ke BUMN, tapi pada dasarnya jangan terlalu takut pada bunga tinggi, kalau bisnis bisa jalan, jumlah pinjaman yang kita perlukan juga dikabulkan, dan keuntungan yang kita inginkan tercapai, artinya bunga pinjaman mampu dibayar, ya ambil saja, sederhananya sama-sama untunglah, yang pasti kan tidak seperti rentenir.
OK, ngerti, trus apa yang perlu disiapkan untuk jadi wirausaha yang baik ?
Sebenarnya cukup mentalitas yang baik dan kuat, sisanya hanya skill tentang teknik-teknik produksi, teknik pemasaran dan teknik pengelolaan. Mentalitas bisa dibilang 90 % dari bisnis, sedangkan skill hanya 5 % , teori juga 5 % saja.
Kenapa mental sangat penting ?
Iya, sebab mental dapat menjadi penghalang terbesar kalau mau buka usaha, kita menyebutnya mind blocker – penghalang fikiran -, seringkali orang sudah semangat menyusun rencana ini dan itu tapi pada akhirnya dirinya sendiri yang membatalkan.
Penghalang fikiran atau mental blocker itu seperti apa ?
Yang begitu khan banyak sekali disekitar kita.. gimana ngatasinya ?
Ikut pelatihan, tapi bukan asal pelatihan, pilih pelatihan yang bisa memperkuat mental bisnis kita, yang bisa selalu memotivasi kita, yang bisa mengajari bagaimana menghancurkan penghalang di fikiran kita, dan yang bisa membimbing dan mendampingi usaha kita, semacam konsultan pendamping.. begitu.
Begitu?!.. Kita sudah ngomong jauh, kalau kembali ke judul mengenai pengurangan pengangguran, bagaimana hubungannya ?
Begini, yang kita bicarakan dari tadi adalah konsep menciptakan wirausaha baru seperti anda, nah kalau konsep ini diterapkan kepada pengangguran yang ada disekitar kita, kemudian banyak pengangguran yang bersemangat membangun usaha baru, kan artinya pengangguran bisa berkurang, apalagi kalau bisa maju, kemudian tiap usaha tadi merekrut pengangguran lain menjadi karyawannya, maka efek dominonya akan terasa terhadap pengurangan pengangguran, bisa dimengerti?
Ngerti, tapi pelatihnya khan masih sedikit..
Benar, tapi pelatihnya juga bisa diperbanyak dengan melatih orang-orang yang punya kepedulian tinggi untuk membantu orang lain yang akan membangun usaha. Hebatnya lagi, sebenarnya calon pelatihnya juga bisa direkrut dari orang-orang yang statusnya pengangguran.
Masak sih ?
Jangan lupa, banyak penganggur yang statusnya sarjana, mereka berpotensi menjadi motivator dan pendamping, asal.. mereka diseleksi dulu dengan ketat, terutama mentalitasnya harus yang berpihak pada rakyat kecil, bukan orang yang hanya ingin cari kerja saja. Sebelum mendampingi orang lain, mereka harus dilatih terlebih dahulu dan menjadi wirausaha dulu sehingga tahu dan merasakan bagaimana rasanya menjadi wirausaha dan mengalami kesulitan-kesulitan serta tahu cara mencari solusinya.
Wow.. kesulitan ?
Iyalah.. seperti anak kecil belajar naik sepeda, pastinya sulit sekali pada awalnya, sering jatuh bangun, kadang luka, kadang nangis, tapi tidak kapok. Dengan sedikit bimbingan dari orang lain yang sudah bisa naik sepeda, biasanya jadi cepat pandai naik sepeda. Dan hebatnya lagi, setelah bertahun-tahun tidak naik sepeda keterampilan itu tidak akan hilang, tetap bisa naik sepeda, bisnis kurang lebih seperti itu, OK..?!
Sabtu, 11 Oktober 2008
INKUBATOR BISNIS
Selama ini hampir semua UMKM lahir dan tumbuh dengan sendirinya, ada yang lahir dengan sehat, ada yang tidak sehat, ada yang belum cukup umur untuk dilahirkan tapi terpaksa sudah harus lahir menjadi UMKM. Seperti halnya bayi manusia, UMKM yang lahir prematur memerlukan sebuah Inkubator untuk memberikan daya dukung kehidupan hingga sang bayi mampu hidup dan sehat.
Citra UMKM hampir tak pernah lepas dari dua hal, pertama, selalu dianggap sebagai usaha yang tahan banting ditengah badai krisis ekonomi, kedua, selalu memiliki kelemahan yang dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari UMKM, misalnya lemah dari sisi manajemen usaha, lemah dari sisi teknologi, lemah dari sisi pemasaran, lemah dari sisi manajemen keuangan, akses permodalan, SDM, dan berbagai kelemahan lainnya. Mungkin harus dibuatkan istilah bagi UMKM yakni si lemah yang tahan banting !. Hal tersebut mungkin saja terjadi akibat proses kelahiran UMKM yang prematur, banyak yang belum siap untuk menjadi UMKM yang sehat, dan badai itu sendirilah yang memaksa kelahiran-kelahiran UMKM yang prematur. Kesempatan kerja formal yang menyempit, struktur perusahaan yang semakin ramping sehingga harus mem PHK karyawannya, masih banyaknya pengangguran, dll. Peluang yang terbuka adalah kerja non formal menjadi UMKM, namun seringkali mereka juga belum siap karena tak terbiasa dalam bidang ini, kurang pengalaman, serta pendidikan mereka umumnya bukan ditujukan untuk menjadi UMKM. Dengan kata lain, untuk menjadi UMKMpun diperlukan beberapa hal, seperti memiliki jiwa kewirausahaan yang dapat tumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan atau pendidikan kejuruan, atau lingkungan usaha disekitarnya.
UMKM sendiripun menyadari berbagai kelemahan yang dimilikinya, namun mereka tidak tahu dimana tempat yang tepat untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berusaha. Perhatian dari berbagai pihak seperti dari pemerintah memang cukup besar, namun bisa dikatakan tidak semua UMKM berkesempatan mendapatkannya, terutama dari segi anggaran yang terbatas, tidak setiap saat ada program pelatihan. Diperlukan sebuah Inkubator bisnis mandiri yang dapat diakses oleh UMKM sepanjang tahun, dan sedapat mungkin juga dibiayai oleh UMKM itu sendiri. Dengan kata lain UMKMpun memerlukan sekolah bisnis sendiri.
Inkubator bisnis adalah sebuah tempat, dimana UMKM dapat mempersiapkan dirinya dengan berbagai bekal pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung usahanya. Dalam inkubator ini seorang wirausaha dapat melihat daya dukung apa yang ia perlukan, apakah permodalan, motivasi usaha, manajemen produksi, manajemen organisasi, manajemen pemasaran, informasi pasar, manajemen keuangan, teknologi produksi, teknologi kemasan, peluang-peluang pasar, jaringan pemasaran, promosi dan publikasi usaha, dan lain-lain. Wirausaha dapat memilih bidang apa yang diperlukannya untuk menyehatkan perusahaannya, atau ia dapat mengikuti keseluruhan program inkubator secara lengkap.
Tujuan yang ingin dicapai melalui inkubator bisnis adalah munculnya UMKM / wirausaha yang sehat, bebas dari berbagai kelemahan yang selama ini melekat pada citra UMKM, minimal mereka tahu bagaimana cara menemukan solusi bagi permasalahan mereka.
Jika melihat dari berbagai lembaga pendidikan yang ada, yang cukup tepat untuk membangun inkubator bisnis adalah yang bersifat kejuruan. Hal ini dimungkinkan karena pada lembaga pendidikan jenis ini cukup tersedia alat praktek ( padat alat dan padat tenaga ahli/guru teknis ). Yang perlu ditambahkan adalah mata ajaran dan pelatihan kewirausahaan ( jika belum ada disitu ). Saat inipun pemerintah telah mengharuskan diajarkannya mata ajaran kewirausahaan diperguruan tinggi, sehingga lulusannya juga memiliki pengetahuan yang cukup untuk berwirausaha mandiri, dapat membuka lapangan kerja untuk dirinya sendiri dan orang lain. Jika sudah ada mata pelajaran kewirausahaan, maka yang perlu ditambahkan adalah pelajaran ekstra kurikuler mendirikan usaha benaran namun tingkat pemula bagi setiap murid kelas dua misalnya. Usaha ini dipilih sendiri kemudian dikelola sendiri dengan bimbingan langsung dari guru ataupun konsultan khusus. Dengan cara ini siswa telah diperkenalkan dengan dunia usaha yang nyata, mengenal cara mengelola usaha dengan manajemen sederhana, mengenal pasar dan teknik pemasaran serta promosi, pengendalian keuangan dan lain-lain. Pengalaman ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk kelak selesai kuliah menciptakan lapangan kerja mandiri bagi mereka dan orang disekitarnya. Pengalaman ini juga dapat menjadi dasar bagi mereka untuk memilih fakultas di universitas yang cocok dengan bidang usaha yang kelak mereka bangun kembali.
Jumat, 19 September 2008
BERBISNIS DIRUMAH, MAU COBA ?
Bisnis kecil dirumah seperti yang dikerjakan para UKM kebanyakan adalah usaha membuat produk di rumah lalu memasarkannya ke tempat lain seperti toko ataupun supermarket. Bisnis rumah kali ini lebih menekankan penjualannya juga dirumah dengan target pasar adalah masyarakat dilingkungan sekitarnya.
Banyak orang ingin memulai usaha tetapi bingung dan merasa bahwa untuk produksi dan penjualannya harus memiliki tempat tertentu di lokasi tertentu pula yang dianggap strategis. Padahal tidak selalu demikian, jika rumah sendiri masih memungkinkan, juga lingkungannya memungkinkan kenapa tidak membuka usaha dirumah saja. Bentuk paling umum adalah membuka usaha sembako dalam bentuk warung disamping rumah, menjual makanan disamping rumah dan beberapa jenis usaha lainnya seperti salon.
Jenis bisnis kreatif yang dapat ditekuni dirumah serta dapat dijual dari rumah bisa dengan memanfaatkan ruangan-ruangan didalam rumah, atau pekarangan rumah yang mungkin masih menyisakan tempat untuk berbisnis.
Umumnya lingkungan yang memungkinkan untuk membangun bisnis dengan target pasar yang cukup bagus adalah dilingkungan komplek perumahan, namun demikian diperlukan izin lingkungan agar bisnis yang dibangun tidak dianggap mengganggu lingkungan warga sekitar. Lingkungan perumahan dianggap cocok karena dalam satu komplek dapat terdiri dari banyak blok-blok hunian, tiap blok juga banyak rumah yang dihuni oleh warga, artinya peluang pasarnya cukup besar walaupun tetap terbatas dalam komplek tersebut. Segmen pasar yang dapat dipilih bisa didasarkan pada batasan usia warga yakni anak-anak, remaja, remaja putri, remaja putra, wanita dewasa lajang, pria dewasa lajang, ibu rumah tangga, pasangan suami istri, keluarga muda, bahkan para manula didalam komplek dapat menjadi segmen pasar.
Kebutuhan mereka akan menjadi jenis usaha yang dapat kita kerjakan dirumah, promosinyapun tidak sulit karena jarak tempuh penyebaran informasi tidak jauh dan lokasi usaha kita, juga mudah dijangkau oleh mereka, selain itu layanan antar jemput juga dapat diterapkan sebagai layanan prima.
Adapun jenisjenis usaha kreatif yang dapat dikerjakan antara lain :
- Salon rambut khusus anak-anak dengan fasilitas hiburan seperti game, film kartun, mainan anak-anak dan jajanan anak-anak, tempat usaha ditata agar menarik dan cocok dengan minat anak-anak seperti desain sebuah taman bermain. Rambil rambutnya ditata, sang anak dapat menonton film anak-anak dari monitor / tv dihadapannya. Anak-anak lain yang menunggu giliran dapat bermain dengan mainan ditempat mereka menunggu, sediakan pula minuman ringan yang dapat dijual kepada anak-anak tersebut dan orang tuanya.
- Penjualan pupuk tanaman hias dapat dengan memajang banyak tanaman hias yang telah dipupuk dengan produk yang dijual, sedikit banner indah akan memancing perhatian para peminat tanaman hias didalam komplek. Brosur dan sampel pupuk atau tanaman dapat dititipkan di warung atau toko di tiap blok dalam komplek sebagai sarana promosi usaha. Sebab toko di komplek umumnya ramai didatangi oleh kaum perempuan pencinta bunga/tanaman hias.
- Voucher pulsa telepon genggam juga cukup potensil di dalam komplek dimana warga tidak perlu jauh-jauh untuk membeli pulsa jika sedang berada didalam komplek. Sedikit plank petunjuk di depan blok dapat memberi informasi berguna bagi calon pembeli.
- Penyewaan komputer, bahkan game komputer atau multi player juga memungkinkan untuk dijalankan, biasanya peminat game cukup besar dan loyal pada tempat dimana mereka biasa bermain.
- Jasa pembuangan sampah juga dapat ditawarkan dengan pelayanan pengambilan sampah secara teratur, biaya yang murah dapat menjadi penarik bagi warga yang kadang malas untuk membuang sampah keluar komplek, bagi pengusaha ongkos yang kecil akan menjadi banyak jika dapat memikat banyak rumah untuk dilayani pembuangan sampah mereka.
- Bisnis obat murah dapat menjadi bisnis yang menarik di dalam komplek dimana warga dapat membeli obat murah tanpa kehilangan kualitas, penawaran di beberapa tabloid bisnis untuk membuka usaha Obat Serbu (serba seribu) dapat dipertimbangkan.
Masih banyak lagi bisnis dirumah yang dapat dikerjakan, namun segalanya akan kembali pada anda untuk mengamati lingkungan sekitar anda, memilih mana usaha yang cocok dan mantap dengan hati anda sehingga keyakinan anda cukup kuat untuk memulai usaha.
Lalu bagaimana dengan promosinya ?
Untuk promosi anda dapat menggunakan banner out door (digital printing ) yang saat ini bisa diperoleh dengan harga terjangkau, desain profesional, tidak harus berukuran besar, cukup seukuran plang nama kantor atau lebih kecil sudah cukup baik. Pasanglah papan iklan anda di depan blok dimana anda tinggal yang bersisian dengan jalan utama komplek, maka para penghuni yang setiap hari keluar masuk komplek akan dengan mudah melihat iklan anda. Tawarkan dengan kata-kata yang memikat seperti kata-kata “ LEBIH MURAH, ISTIMEWA, CUMA ADA DISINI, JANGAN KEHABISAN, STOCK TERBATAS, GARANSI UANG KEMBALI, LUAR BIASA, DISKON GEDE, CUMA BUAT WARGA SINI, BESOK LAIN HARGA, dll “.
Sabtu, 24 Mei 2008
Sekelumit kisah perjalanan hidup saya berwirausaha
Di SMP saya mulai membuat kerajinan hiasan dinding yang pada tahun 80an sudah berharga sekitar Rp. 75.000 s/d Rp. 150.000 per buah, dalam 1 bulan saya bisa jual 3 buah. Seringkali pendapatan saya selama masa tersebut sekitar 450.000 rupiah perbulan. Apakah prestasi saya di SMP turun ? Tidak juga. Selama di SMP saya selalu Juara Kelas, Juara Umum saat Ujian Akhir dan menjadi Juara I Siswa Teladan tingkat Propinsi. Prestasi iya… wirausaha juga tetap dijalankan.
Selama SMA saya lebih banyak belajar bergaul dan bermasyarakat, maksudnya sih supaya ndak kuper. Jadi bisnis saya kurangi, belajar juga secukupnya. Prestasi masih cukup bagus, untuk bisnis masih saya fikirkan jenis lain yang lebih baik untuk saya.
Selama Kuliah, saya menjalankan usaha sablon sehingga saya bisa mencari uang sendiri untuk keperluan transportasi dan keperluan lainnya. Di Universitas saya pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tanjung Pura, Menjadi juara 1 Mahasiswa Teladan tingkat Fakultas dan Juara 3 Mahasiswa Teladan tingkat Universitas. Jadi walapun tetap berbisnis, prestasi tidak kedodoran. Selain sablon, saya juga berdagang peralatan lapangan untuk mahasiswa kehutanan seperti Ransel day pack, seven day pack, celana lapangan, dan lain-lain, saya juga menerbitkan media cetak Hutan Post untuk pertamakalinya dengan printer dot matrix sederhana dan komputer dengan OS DOS 1.0 punya abang saya.
Setelah tamat kuliah, saya banyak bekerja di proyek swasta di lapangan/hutan selama beberapa tahun, setelah itu saya menganggur.
Selama menganggur saya punya keinginan untuk memiliki rumah sendiri, caranya saya tidak tahu karena saya menganggur, tapi keinginan itu kesampaian juga, walaupun menganggur tapi saya bisa dapat rumah BTN alias Bayar Tapi Nyicil, tak masalah, setelah itu saya berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, enam bulan setelah mendapat rumah sendiri saya mulai bekerja lagi di perusahaan kayu selama 6 tahun, awal kerja sekitar 3 bulanan saya ingin menikah membentuk keluarga, alhamdulillah kesampaian juga, selama bekerja, tugas saya berpindah-pindah lokasi dari Kalimantan Barat hingga ke Kalimantan Timur selama hampir 2 tahun.
Setelah itu saya kembali ke Pontianak awal tahun 2002 sebagai pengangguran. Selama menggangur saya berusaha mencari berbagai informasi pekerjaan dan peluang usaha, saya juga memulai usaha menjual obat tradisional yakni minyak rempah, namun belum berhasil, kemudian saya mengikuti pelatihan kewirausahaan (CEFE) oleh Unit Pelatihan disperindag propinsi Kalbar. Setelah itu saya mendirikan Lembaga Pelatihan Wirausaha / LPWU.
Selama menjalankan LPWU saya hanya sebagai asisten pelatih, saya berusaha menyerap berbagai pengetahuan baru yakni usaha jasa dan sebagai motivator bisnis. Telah banyak pelatihan kewirausahaan yang dijalankan oleh LPWU, sejak tahun 2003 hingga tahun 2007 kurang lebih sudah dua puluhan kali kami memberikan pelatihan kepada masyarakat. Sambil berjalan saya bergabung dengan Forum Daerah /Forda UKM Kota Pontianak dan menjadi sekretaris, saya juga mengikuti test kelayakan untuk menjadi Konsultan Keuangan Mitra Bank sebagai wakil dari LPWU dan dinyatakan lulus. Mulai tahun 2008 LPWU menyelenggarakan workshop motivasi bisnis kepada masyarakat umum.
Tahun 2004 Saya mulai kembali kedunia bisnis, masuk kedalam lingkungan usaha kecil / UKM. Didunia UKM saya merasa teman-teman UKM memerlukan berbagai informasi bagi usaha mereka, sementara itu saya bisa membuat tabloid khusus UKM, maka pada bulan februari tahun 2005 saya mulai menerbitkan edisi pertama dalam bentuk kecil. Sempat vakum beberapa bulan, kemudian saya menawarkan kepada beberapa orang yang saya kenal, pada akhirnya Pak Dwi Mukti Wibowo tertarik dan siap mendanai tabloid yang saya namakan Tabloid MEDIA UMKM & KOPERASI. Waktu itu terbit dalam ukuran kecil, yakni ukuran kertas folio, kemudian terbit kembali dalam ukuran normal Tabloid, kemudian penyebarannya masuk hingga daerah Jakarta, Bandung dan Medan pada penghujung tahun 2006. Tahun 2007 Tabloid kami terbit dengan nama baru yakni For Biz dengan dukungan dari CV. Marvel dan PT. UKM Indonesia.
Awal tahun 2006 saya juga dipercaya menjadi ketua pengurus Koperasi Mahendra Adji Saroyo yang pada akhir tahun 2006 membangun Terminal Kemasan bagi Koperasi dan UKM melalui bantuan dana dari Kementrian Koperasi dan UKM. Terminal Kemasan ini berfungsi untuk memperbaiki kemasan produk UKM terutama makanan yang dulunya sederhana kini bisa setara dengan keluaran pabrikan. Terminal kemasan menyediakan jasa desain label kemasan, menyediakan jenis-jenis bahan kemasan, bentuk-bentuk kemasan, dan juga menyediakan mesin-mesin pengemas.
Dari berbagai pengalaman mendampingi UKM, pada pertengahan tahun 2006 saya diuji untuk menjadi tenaga ahli pendamping UKM pangan oleh Departemen Perindustrian Pusat Jakarta, dan saya dinyatakan lulus. Saya mendampingi 5 IKM terpilih untuk dibina dan dikembangkan usahanya. Tahun 2007 saya kembali mengikuti ujian saringan sebagai Tenaga Ahli IKM Pangan, dinyatakan lulus dan mendampingi 10 IKM ( Industri Kecil dan Menengah ) kota Pontianak dalam program On Company Level (OCL).
Pada tahun 2005 saya dipercaya oleh Dinas pendidikan untuk menjadi ketua Tim Teknis program Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP-3) sejumlah 15 orang, yang berada di Kabupaten Sambas. Dan pada tahun 2006 saya ditunjuk kembali pada posisi yang sama oleh Badan Pemuda, Olah Raga dan Pemberdayaan Perempuan Propinsi Kalbar, membawahi 15 orang sarjana di 15 desa di Kabupaten Sekadau sehingga secara keseluruhan dengan kabupaten Sambas menjadi 30 desa. Tahun 2007 kami kembali merekrut 15 orang sarjana untuk ditempatkan di 7 desa di kabupaten Sanggau. Mereka bertugas untuk menggerakkan masyarakat desa guna membangun desanya dengan kekuatan potensi alam dan SDM yang ada di desanya sendiri.
Apa yang saya lakukan sebenarnya hanyalah merajut simpul-simpul jaringan kerja ( Network ) karena pada masa kini Network sangatlah penting untuk mendukung keberhasilan seseorang.
Demikian sedikit ringkasan pengalaman hidup saya bermodalkan cara berfikir positif dan selalu berupaya menghilangkan blocker/penghalang di fikiran saya. ( Bayangkan jika penghalang ternyata hanya ada di dalam fikiran kita dan kita bisa menghilangkannya, apa yang akan terjadi ? )
Semoga pengalaman ini dapat memberi sedikit inspirasi bagi siapa saja yang bertekad untuk mencapai hal yang lebih baik di masa depan.
Topik
Shoutbox
|
|