Jumat, 18 Oktober 2013

MENCETAK WIRAUSAHA BARU UNTUK NEGERI INI (Wawancara dengan Majalah Kiastra)

Salah satu faktor kunci menuju percepatan pembangunan adalah hadirnya pelaku-pelaku usaha yang tangguh. Malahan, inilah faktor terpenting dari semua faktor penentu. Sejumlah negara di dunia telah membuktikan hal tersebut. Contoh klasik kita adalah negara tetangga Indonesia terdekat, yaitu Singapura. Negara ini telah berhasil mencapai tingkat kemajuan ekonomi yang spektakuler sebagaimana tercermin dari besarnya GDP (produk domestik bruto) per kapita. Menurut data IMF, GDP (PPP) per kapita Singapura pada tahun 2012 telah mencapai sekitar US$60,000 atau tertinggi di ASEAN dan tertinggi ketiga di dunia di bawah Qatar dan Luksemburg. Padahal negara tersebut tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan.
Sementara itu Indonesia, yang kaya akan sumber daya alam, hanya berada pada peringkat ke-117 dari 187 negara yang disurvei, dengan GDP (PPP) per kapita sekitar US$4,600. Jadi, apa yang harus diperhatikan dan dibenahi?

Indonesia bercita-cita untuk mencapai pendapatan per kapita antara US$14,000 sampai dengan US$16,000 pada tahun 2025. Waktunya hanya tinggal 12 tahun dari sekarang. Pertanyaannya, mungkinkah itu tercapai?
Bisa ya bisa tidak. Jika pada tahun 2014 terpilih seorang presiden baru yang memiliki kemampuan yang hebat, maka harapan itu mungkin berada dalam jangkauan untuk dapat diwujudkan. Syaratnya, dia harus mampu melakukan berbagai terobosan kebijakan yang memungkinkan dunia usaha berkembang pesat. Dia harus mampu mengendalikan stabilitas politik dan keamanan, dan kinerja dunia pendidikan dapat ditingkatkan. Termasuk dalam terobosan di dunia pendidikan adalah penyelenggaraan pelatihan-pelatihan keterampilan di berbagai bidang dan tingkatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, dengan cara yang tidak dipoles-poles melainkan dengan menerapkan “iron law of meritocracy,” siapa mampu dia diberi nilai yang baik dan diberi kesempatan. Itu dilakukan secara menyeluruh baik di birokrasi pemerintahan, sekolah-sekolah kejuruan, perguruan tinggi, maupun pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Pemerintah harus mengawal agar terobosan kebijakan dilaksanakan di lapangan secara konsisten. Pejabat yang tidak kompeten harus diganti dengan yang kompeten karena jantung perubahan ada di birokrasi pemerintahan.

Meminjam istilah dalam buku Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), semua pemangku kepentingan pembangunan harus melakukan pekerjaannya “not business as usual.”

Jadi, mulai sekarang marilah kita mencari calon presiden yang hebat yang akan membawa Indonesia mewujudkan percepatan pembangunan yang signifikan dalam waktu satu dasawarsa ke depan. Kita boleh optimis.

Di lapangan, saat ini, sedang berlangsung berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat yang patut diacungi jempol. Salah satunya adalah yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia melalui program pemberdayaan usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sasarannya, mencetak ribuan wirausaha Indonesia yang berdaya saing tinggi. Pendekatan dilakukan bukan hanya kepada para pelaku usaha kecil yang sudah ada, melainkan juga kepada para mahasiswa yang masih ada di perguruan tinggi. Para mahasiswa tersebut diajak untuk mulai memikirkan meniti karir sebagai wirausahawan setelah lulus dari perguruan tinggi.

Salah satu tokoh penting di balik program pengembangan kewirausahaan yang dilaksanakan Bank Indonesia tersebut adalah Hatta S. Mahyaya. Nama depannya kebetulan sama dengan nama Hatta Rajasa yang adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, namun di antara mereka tidak ada hubungan kekerabatan. Hatta S.M. sebagaimana ia biasa dipanggil oleh para koleganya adalah orang Pontianak asli, sarjana lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura tahun 1993.

Kiprah Hatta S.M. ini telah membawanya ke istana presiden untuk menerima penghargaan Upakarti pada tahun 2011 sebagai pendamping UMKM. Ide-ide dan strateginya untuk pemberdayaan UMKM dan pengembangan kader-kader wirausaha sangat membumi. Kalau gagasan dan langkah-langkahnya di lapangan dapat diikuti dan diterapkan di tempat lain di seluruh Indonesia, maka dalam waktu singkat Indonesia dapat memiliki ribuan kader wirausaha yang tangguh.

Untuk mengungkap lebih jauh pemikiran dan langkah-langkah nyata Pak Hatta tersebut, wartawan majalah KIASTRA, Dalle Daniel Sulekale, menemuinya di Sekretariat Inkubator Bisnis UMKM yang berlokasi di gedung lama Bank Indonesia di Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Wartawan Kiastra juga sempat menghadiri acara wisuda para wirausahawan-wirausahawati angkatan kedua dan ketiga hasil bimbingan Pak Hatta selama enam bulan. Berikut hasil wawancara dengan beliau:

Sejak kapan anda menjalin kerjasama dengan Bank Indonesia
Sejak tahun 2009. Posisi saya sebagai konsultan Pemberdayaan UMKM.

Sebelumnya di mana?
Sebelumnya sebagai Tenaga Ahli Industri Kecil dan Menengah (IKM) Pangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Kalimantan Barat, yaitu sejak tahun 2006. Saya bertugas sebagai tenaga ahli IKM (Industri Kecil Menengah) dengan tugas utama membantu memberdayakan kelompok-kelompok usaha pangan. Saya ditempatkan di Disperindag Provinsi Kalbar itu sebagai tenaga ahli dari Kementerian Perindustrian, sehingga honor saya dari Kementerian Perindustrian. Pada tahun 2008 saya beralih dan langsung berada di bawah Disperindag Provinsi.

Tugas anda apa saja sebagai tenaga ahli IKM pangan waktu di Disperindag Provinsi?
Memetakan UMKM Kalbar (jenis usaha, penyebaran, permasalahan yang dihadapi), di-ranking lalu menawarkan solusi atas permasalahan yang dihadapi langsung kepada pelaku usaha yang bersangkutan. Jadi dilakukan pendampingan langsung pada level perusahaan (On Company Level), dalam program ini dilakukan pembimbingan langsung secara kontinu selama enam bulan. Kami juga masuk ke kabupaten-kabupaten melalui dinas-dinas perindustrian dan perdagangan kabupaten. Empat aspek utama yang diperhatikan: produksi, keuangan, pemasaran, dan organisasi. Saya juga merupakan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) yang dilatih langsung oleh Bank Indonesia dan bertugas mempersiapkan UMKM untuk dapat mengelola usaha dengan baik dan bankable.

Setelah masuk ke Bank Indonesia?
Setelah bergabung dengan Bank Indonesia di Pontianak sebagai konsultan, saya mendapat tugas untuk mengembangkan dan memberdayakan sektor riil dan UMKM yang meliputi banyak sektor seperti pertanian, perikanan, industri rumah tangga, perdagangan dan lain-lain. Yang harus saya lakukan terutama berkaitan dengan bidang pertanian, yaitu memperkuat kelompok-kelompok petani menjadi wirausaha tani. Pemuda-pemuda dan petani kami latih menjadi wirausaha tani dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia melimpah di desa. Kenapa petani menjadi sasaran utama? Karena waktu itu isu pembangunan yang menonjol adalah masalah ketahanan pangan dimana lahan dan produktifitas hasil pertanian menurun. Sekarang ini fokus perhatian bukan lagi terbatas pada pertanian saja tetapi semua bidang usaha UMKM.

Bentuk pendampingan di lapangan?
Kami melakukan pembinaan kepada kelompok-kelompok petani untuk meningkatkan wawasan bisnis mereka, yaitu bagaimana meningkatkan produksi dengan meminimalisasi biaya. Salah satu cara yang disarankan kepada petani adalah meningkatkan penggunaan pupuk organik sederhana. Bahan pupuk adalah jerami padi yang diberi pengurai, yaitu trikoderma. Trikoderma dapat mengikat besi yang meracuni tanaman, mencegah berkembangnya jamur penyakit yang merusak tanaman padi, dan menghidupkan mikroba-mikroba tanah sehingga nutrisi tanah lebih tersedia dan mudah diserap tanaman. Penggunaan pupuk organik sederhana ini bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah. Rongga-rongga udara (aerasi) tanah terbentuk sehingga tanah tidak padat dan dapat menyimpan air saat kemarau. Sekarang, setelah kelompok-kelompok yang didampingi semakin bervariasi bidang usahanya, pendampingan terutama dilakukan untuk membangun mentalitas wirausaha dalam menjalankan manajemen bisnis, khususnya aspek pemasaran, produksi, dan keuangan.

Wirausaha kuat, perekenomian negara kuat. Bagaimana menurut anda?
Benar sekali. Semakin banyak wirausaha yang tumbuh, tentunya itu akan menyerap tenaga kerja. Bisa memutar roda perekonomian setempat. Jika semua wilayah bergerak bersama, akhirnya kan seluruh wilayah di Indonesia ikut terpengaruh, ikut bertumbuh. Setiap Wirausaha yang kami latih dan kami bina, kami beri mandat untuk dapat membina sedikitnya dua calon pengusaha baru, dan kepada dua calon pengusaha baru tersebut akan diberikan pesan yang sama sehingga diharapkan efeknya jadi berantai dan meluas dalam waktu yang singkat.

Faktor apa yang krusial dalam upaya penumbuhan jiwa wirausaha.
Masalah pada Wirausaha adalah masalah mentalitas, juga pada inovasi dan kreativitas. Jika hal ini bisa diperkuat dan dikembangkan maka bisa memacu pertumbuhan ekonomi rakyat. Orang yang bukan wirausahawan, basic mentality-nya biasanya adalah sebagai bawahan, orang gajian yang sebagian cenderung apatis, pesimis dan cenderung tidak kreatif. Sikap tidak kreatif ini akan berdampak panjang pada menurunnya daya saing. Orang yang hanya terima perintah, disuruh, kan ya hanya terima bayaran saja. Pengasahan kreativitas jadi lambat, cenderung tumpul. Tapi kalau seseorang menjadi wirausahawan dia cenderung lebih kreatif karena ditempa oleh situasi-situasi berat yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang yang hanya berkedudukan sebagai karyawan. Keunggulan menjadi seorang wirausahawan antara lain sudah jelas dia jadi pimpinan/ boss, bukan bawahan, kemudian bisa mendapatkan status terhormat dengan melegalkan usahanya, dengan akte perusahaan yang resmi, badan usahanya jadi CV atau PT, dan status nya diakui sebagai direktur.

Nah, ketika calon-calon wirausahawan sudah menyadari ini, dia mampu mengeluarkan segenap upaya untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang wirausahawan yang memiliki gengsi yang tidak kalah dibanding menjadi pegawai negeri. Kreativitasnya akan terasah melalui proses persaingan dengan pelaku-pelaku usaha lainnya, dan seterusnya hal tersebut akan memacu perkembangan usahanya.

Bagaimana anda melihat peran anda dalam proses penumbuhan wirausaha tersebut?
Proses menumbuhkan wirausaha itu tanggung jawab moral semua pihak, bukan hanya pemerintah. Saya memilih untuk ikut berperan sebagai kewajiban moral saya, tidak ditunjuk, tidak disuruh, tidak diupah. Saya ambil peran dimana saya bisa. Kebetulan saya mengerti, dan kebetulan punya pengalaman dan pelaku usaha juga, jadi empatinya ada. Jadinya, ketika melakukan kegiatan pendampingan terhadap pelaku-pelaku usaha kecil, saya tidak menemui kesulitan. Saya tidak hanya memberikan bimbingan berdasarkan teori dari buku, melainkan lebih banyak dari pengalaman nyata.

Anda mempunyai usaha apa?
Saya bersama sepupu ada usaha pembibitan tanaman buah, segala macam buah. Lokasinya di Jl. Danau Sentarum, Pontianak. Tanaman bibit tersebut kami jual kepada siapa saja, kepada petani, pemerintah, swasta dan masyarakat umum.
Bagaimana perkembangan wirausaha di Kalimantan Barat?
Di Kalbar ini lebih ke masalah manusianya (SDM) dibanding sumber daya alamnya (SDA). Potensi sumber daya alam di sini banyak sekali. Dalam hal ini kita coba mengangkat dan meyakinkan masyarakat bahwa wirausaha ini adalah pekerjaan yang baik, yang terhormat, yang bergengsi, yang berpotensi meningkatkan ekonomi, mengurangi pengangguran dan mengurangi kemiskinan sehingga citra jelek terhadap wirausaha dapat pelan-pelan kita ubah. Saat ini wirausaha dicitrakan sebagai usaha yang tidak formal, sulit berkembang, tidak berpotensi, tidak bergengsi dibandingkan dengan jadi sarjana terus bekerja sebagai pegawai. Wirausaha dianggap pekerjaan kelas dua. Pandangan itu bisa kita ubah.

Caranya?
Itu tadi. Beri penyadaran bahwa wirausaha itu punya banyak keunggulan. Sudah jelas menjadi wirausaha itu berarti bukan menjadi pengangguran, bukan bawahan, peluang usahanya besar sekali terutama di desa, penghasilan akan meningkat jika kerja bagus dan kreatif, ritme kerja ditentukan sendiri, kerja tidak terikat waktu, modal usaha tidak perlu besar namun dapat menghasilkan laba besar, status sebagai owner. Hal-hal ini kita tanamkan dulu. Jika hal ini berhasil kita tanamkan pada seorang calon sarjana misalnya, maka hasilnya akan luar biasa, sebelum lulus kuliah dia bisa menjadi direktur perusahan, baru setelah itu menjadi sarjana. Pola pikir sebagai seorang sarjana akan sangat berpengaruh pada langkah-langkah selanjutnya. Tanpa gelar sarjanapun semua orang bisa menjadi wirausaha yang berhasil selama mau belajar semisal di Inkubator Bisnis UMKM.

Inkubator bisnis UMKM yang sedang anda kembangkan bersama Bank Indonesia ini siapa penggagasnya, anda atau Bank Indonesia?
Sebetulnya sih gayung bersambut. Saling punya konsep, begitu. Kebetulan tahun 2011 saya mendapat Upakarti dari presiden sebagai pendamping UKM. Di situ saya punya konsep bagaimana cara melakukan percepatan mengangkat kemampuan manajemen wirausaha/UMKM, termasuk yang saya bilang tadi itu bahwa keunggulan-keunggulan wirausaha dapat disiapkan secara khusus. Wadahnya adalah inkubator. Kebetulan Bank Indonesia juga punya program yang namanya Penciptaan Wirausaha Baru. Nah, ini di-combine. Dapatlah bentuknya yaitu Inkubator Bisnis UMKM seperti yang ada sekarang. Kami menyusun silabus dan materi pembelajarannya kemudian dipadu dengan pengalaman lapangan dan mengurangi teori-teori yang sulit diterapkan. Konsepnya adalah bagaimana seseorang itu dapat mengelola usaha kecil dengan baik dan benar namun sesederhana mungkin (Small business is beautifull and easy to role), kita coba sebagai pilot project. Sambutan dari berbagai pihak cukup baik. Dari beberapa daerah ada usul dan permintaan agar juga dibangun inkubator seperti ini di daerahnya.

Kapan Inkubator Bisnis UMKM ini dibangun?
Tahun 2012, tanggal 21 April.

Kenapa 21 April, ada momen khusus?
Sebenarnya memang ada relevansi dengan semangat Ibu Kartini yang diperingati pada tanggal 21 April. Ibu Kartini kan mendorong tumbuhnya peran perempuan, dan itu juga merupakan semangat kewirausahaan. Faktanya, sekitar 90% pelaku wirausaha di Kalimantan Barat ini adalah perempuan. Yang saya alami, sejak 2005 sampai sekarang, sekitar 90% yang saya latih adalah perempuan, jumlah peserta yang pernah mengikuti seminar saya, workshop, pelatihan dan sosialisasi hingga tahun 2013 telah lebih dari 3.000 orang.

Pesertanya dari mana saja?
Untuk inkubator bisnis ini pesertanya untuk sementara dari kabupaten/kota terdekat saja dulu. Usaha mereka beragam, namun banyak yang bergerak di industri rumah tangga berupa kuliner/makanan ringan. Ada juga yang bergerak dibidang jasa, perdagangan, industri kerajinan, perikanan dan teknologi informasi.

Pelatihannya berapa lama untuk satu angkatan?
Enam bulan. Tapi itu tidak setiap hari kerja. Jadwal kami atur sebagai berikut: 1 hari masuk kelas, kemudian 6 hari praktek di rumah masing-masing, action. Apa yang dipelajari di kelas dipraktekkan sesuai bidang usaha masing-masing. Setiap minggu pagi kami kumpul di GOR (Gelanggang Olah Raga) Pontianak. Di sana kami praktek berjualan, memasarkan untuk melatih mental peserta latih. Umumnya peserta pelatihan hanya bisa produksi, begitu mau menawarkan ke pembeli muncul hambatan mental seperti malu dan takut. Nah, di sini kami latih untuk menghilangkan itu. Mereka yang mengikuti saran-saran kami biasanya ada perubahan yang cukup baik.

Bagaimana prosesnya?
Minggu pertama biasanya kami stand-by di tenda. Awalnya, ada rasa malu untuk berkomunikasi dengan calon pembeli yang belum dikenal. Sementara di kelas sudah diajarkan bahwa mereka adalah pasar kita. Nah, pasar ini perlu dikenali, disapa, ditegur, sehingga produk kita juga dimengerti. Nah, biasanya pada minggu kedua kami mendorong lagi “ayo coba, ayo coba.” Ada beberapa kasus, ketika peserta pelatihan ini mencoba untuk berkeliling (mereka punya waktu hanya 2-3 jam dari jam 6 sampai jam 9 pagi), di minggu pertama peserta pelatihan tersebut dapat menjual selondok (keripik) ubi omsetnya sekitar Rp 486.000-an. Bagi dia itu sudah lonjakan luar biasa. Minggu kedua, kita lakukan hal yang sama, kita amati, ternyata terjadi peningkatan walaupun waktu itu lebih singkat karena hujan. Hanya 1 jam, tetapi omsetnya Rp 390.000-an. Dalam skala mikro, kecil, ini sangat berarti. Kalau skala besar sih tidak ada artinya. Minggu ketiga dan keempat naik tajam sampai ke Rp 900 ribuan. Nah, minggu terakhir kemarin (awal Juni, red) dia sudah bisa membukukan omset Rp 1.190.000-an dalam waktu dua setengah jam dengan laba sekitar 40%-50%. Artinya, dia sudah bisa komunikatif dengan pasar.

Mengapa memilih GOR?
GOR itu tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai tingkatan sosial ekonomi. Jadi, random di sana. Hal ini bisa memudahkan teman-teman untuk berlatih. Kalau kita hanya menyasar satu segmen pasar saja, itu belum tentu kena semua segmen. Ketika yang lewat dari berbagai status sosial dan status ekonomi, teman-teman dapat praktek sekaligus. Kami mendirikan dua tenda. Kami terapkan sistem sarang laba-laba yang menunggu pembeli di tenda, ada juga pola jemput bola yang menyebar mencari calon pembeli.

Berapa peserta yang sudah dilatih?
Angkatan pertama tidak banyak, hanya ada 15 orang yang lulus. Pada angkatan kedua dan ketiga ini kami mewisuda 31 orang peserta yang lulus, perempuannya sekitar 80-90 persen. Kami tidak menekankan pada kuantitas, tetapi lebih kepada kualitas. Kami sedang menyiapkan angkatan keempat dengan peserta sekitar 38 orang dengan komposisi persentase perempuan lebih tinggi.

Apakah peserta pelatihan dikenakan biaya?
Prinsipnya inkubator ini kan mencari peserta yang serius. Jadi, kita adakan seleksi dengan tes tertulis dan wawancara. Disampaikan kepada mereka bahwa selama belajar kita akan sharing dana pelatihan yang sangat terjangkau, Rp 300.000,- untuk enam bulan belajar, kurang lebih untuk 24 kali pertemuan. Jadi per minggunya jatuh sekitar Rp 12 ribuan. Satu hari belajar sekitar 6 jam di inkubator, hanya pada hari Sabtu, dari jam 08.00 sampai jam 14.00, selebihnya peserta praktek dirumah mereka masing-masing.

Perlu saya informasikan bahwa dari sharing biaya, uang Rp 12.000-an per minggu itu kembali ke peserta juga. Yang Rp 10.000,- dikembalikan dalam bentuk makan siang bersama, yang Rp 2.500,- dipakai untuk membeli air minum. Mengapa makan siang bersama? Karena kita inginkan mereka saling mengenal, saling berinteraksi, saling bertukar pengalaman, saling bantu dan akhirnya dapat mengembangkan jaringan bisnis bersama.

Pak Hatta juga menjangkau kampus seperti Universitas Tanjungpura yang ada matakuliah wirausaha dan program mahasiswa wirausaha yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia sering diundang untuk memberikan materi umum kewirausahaan dan berdiskusi dengan mahasiswa. Ada kalanya per fakultas ada kalanya pula secara umum untuk peserta dari berbagai fakultas. Ia merasa ini misi yang sangat penting karena menjangkau calon-calon pemimpin. Makin banyak lulusan perguruan tinggi yang memilih menjadi wirausahawan makin baik untuk pertumbuhan ekonomi bangsa.

Bagaimana cara anda memperkenalkan wirausaha kepada mahasiswa?
Mereka tidak bisa di-setting untuk membuka usaha kemudian begitu saja dibiarkan. Ini harus “dibungkus”. Jadi secara bertahap mahasiswa dalam tahun belajarnya itu diperkenalkan dengan wirausaha kemudian belajar mengelola usaha, kemudian melegalitaskan usahanya, tapi jenis usahanya tidak lari dari ilmu yang ia pelajari difakultas. Katakanlah, ia kuliah di fakultas pertanian, bisnisnya mestinya agrobisnis, fakultas teknik ya bisnisnya bidang teknologi, fakultas ekonomi ya bidang jasa dan perdagangan, kalau IKIP ya bisnisnya pendidikan, dst.

Bagaimana seorang mahasiswa dapat diarahkan untuk menjadi wirausahawan?
Sebelum dia lulus, dia bisa mengembangkan usaha dan melegalkan perusahaannya. Artinya, dia sudah jadi direktur sebelum lulus. Ia sudah menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri dan dapat merekrut tenaga kerja. Nah, ketika dia skripsi dia bisa mengangkat judul skripsi berdasarkan usaha yang dijalani atau komiditi yang diambil. Itu bisa jadi bahan skripsi. Misalnya, mahasiswa fakultas pertanian. Seorang mahasiswa pertanian dikenalkan tentang tomat, dia belajar misalnya bagaimana membuat saus tomat yang baik. Ketika sudah bisa, dia perlu bahan baku, nah kita mitrakan dengan petani tomat. Petani punya lahan, punya tomat, tapi tidak punya pengetahuan. Nah, mahasiwa belajar, pengetahuannya diberikan kepada petani. Sinergi dia berdua. Ketika itu sudah mulai jalan, sudah mulai mengenal pasar, kemudian petani dan mahasiswa tersebut membangun sebuah perusahaan. Katakan, dia bikin CV begitu, mahasiswanya jadi direktur, petaninya boleh saja jadi komanditer. Sinergi. Ketika dia mau skripsi si mahasiswa mengangkat tomat, boleh buahnya, boleh hamanya, boleh tanahnya, boleh penyakitnya, apa saja yang terkait dengan tomat, termasuk bisnisnya itu. Setelah dia lulus, kan dia jadi sarjana. Nah, dia dapat tambahan gelar, selain sebagai direktur dia juga sarjana. Ketika dia selesai diwisuda, dia tidak sempat menganggur. Jadi, dia mendapat dua kesempatan, apakah mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan yang saat itu sudah diwujudkannya. Dia bisa kelola terus tanpa harus mencari lagi pekerjaan, atau dia delegasikan kepada siapa saja, bisa kepada saudaranya atau kepada orang lain. Kalau ini berjalan dengan baik maka ada output positif yang bisa diharapkan, misalnya setiap tahun akan ada ribuan sarjana yang diwisuda, maka sekaligus ada ribuan perusahaan yang didirikan, sekaligus ada ribuan direktur baru yang dicetak. Nah, tidak ada atau hanya sedikit saja pengangguran. Sangat mudah mencapai target wirausaha sebanyak 2% dari jumlah penduduk jika kita percaya pada teori ahli ekonomi MacClelland.

Jadi, anda setuju jika sambil kuliah mahasiswa juga mengembangkan bisnis?
Setuju. Keduanya harus matching, bisnisnya dan studinya. Sebagaimana saya katakan tadi, misalnya mahasiswa pertanian ya dia seharusnya membangun usaha berbasis pertanian, mahasiswa fakultas teknik ya bisnisnya teknologi, mau teknologi sederhana atau teknologi canggih, terserah. Mata kuliah yang dia pelajari di bangku kuliah itu jadi sumber ide bisnis dia, demikian.

Tidak ada komentar:

Shoutbox

Name :
Web URL :
Message :